Manchester United kembali menjadi sorotan besar di Premier League musim 2025/2026. Meski tengah menikmati periode positif dengan lima pertandingan beruntun tanpa kekalahan, tren tersebut justru dibarengi dengan kritik yang tak kalah keras. Banyak pihak menilai bahwa perkembangan Setan Merah di bawah Ruben Amorim masih jauh dari kata memuaskan.
Di atas kertas, catatan lima laga unbeaten tentu patut diapresiasi. Namun dua hasil imbang terakhir kontra Nottingham Forest dan Tottenham Hotspur membuat sejumlah pengamat mempertanyakan arah perkembangan tim. Apakah ini benar-benar tanda kebangkitan, atau justru ilusi kemajuan yang menutupi masalah struktural MU?
Kritik Jimmy Floyd Hasselbaink: “Progress? Saya Tidak Melihatnya”
Nama yang paling vokal melontarkan kritik adalah mantan striker Chelsea, Jimmy Floyd Hasselbaink. Dalam penampilannya di Sky Sports News, ia mengungkapkan pendapat yang sangat tajam mengenai performa United. Menurutnya, tidak ada indikasi nyata bahwa MU menunjukkan peningkatan kualitas permainan.
“Saya tidak berpikir mereka membaik, maaf,” kata Hasselbaink tegas.
Ia bahkan memberikan tiga indikator sederhana untuk menilai progres sebuah tim: jumlah gol dicetak, jumlah gol kebobolan, dan apakah tim tersebut memenangkan trofi. Sayangnya, menurut Hasselbaink, Manchester United tidak menunjukkan perbaikan signifikan di ketiga aspek tersebut.
“Di mana mereka meningkat? Mereka tidak mencetak lebih banyak gol, tidak kebobolan lebih sedikit, dan mereka tidak memenangkan apa pun,” tambahnya.
Pernyataan ini menjadi refleksi dari keresahan para pengamat yang sejak lama menilai MU belum konsisten sebagai tim elite. Meski ada perbaikan performa, United belum memberi tanda-tanda sebagai kandidat juara.
Statistik Amorim Masih Jadi Sorotan
Ruben Amorim merayakan satu tahun masa kepelatihannya di Manchester United pada Oktober 2025. Namun statistik selama 54 pertandingan bersama klub menunjukkan rapor yang dianggap jauh dari ekspektasi.
- 21 kemenangan
- 14 hasil imbang
- 19 kekalahan
Dengan materi pemain dan investasi besar yang dimiliki United, angka tersebut dianggap tidak mencerminkan level klub sebesar Manchester United. Justru banyak pengamat menilai statistik itu lebih cocok untuk tim papan tengah Premier League.
Amorim datang dengan reputasi besar setelah sukses di Sporting CP, membawa gaya permainan berbasis penguasaan bola yang progresif dan struktur yang sangat taktis. Namun hingga kini, sebagian publik merasa identitas itu belum benar-benar terlihat di Old Trafford.
Investasi Raksasa, Hasil Masih “Setengah Matang”
Manchester United kembali melakukan belanja besar pada musim panas 2025. Lebih dari £200 juta dihabiskan untuk mendatangkan pemain-pemain seperti:
- Matheus Cunha
- Bryan Mbeumo
- Benjamin Sesko
- Senne Lammens (kiper muda Belgia)
Para pemain ini diproyeksikan sebagai fondasi jangka panjang. Namun adaptasi yang lamban membuat banyak pihak mempertanyakan efektivitas rekrutan tersebut dalam mengangkat kualitas permainan United.
SIMAK JUGA : Leny Yoro Yakin Era Kejayaan Manchester United Akan Segera Kembali
Hasselbaink bahkan menyoroti kreativitas tim yang dianggap jauh dari standar historis MU. “Saya melihat MU yang tidak memiliki identitas permainan jelas. Mereka tidak cukup agresif, tidak cukup kreatif, dan mereka tidak mengontrol pertandingan,” ujarnya.
Internal Manchester United Justru Lebih Optimistis
Berbeda dengan pandangan luar, suasana internal Manchester United disebut jauh lebih positif. Sumber dari Carrington menyebutkan bahwa ruang ganti terasa lebih stabil, kohesif, dan harmonis.
INEOS, pemilik baru yang mengambil alih kesuksesan operasional klub, juga menegaskan dukungan jangka panjang terhadap Amorim. Mereka menilai bahwa proyek pembangunan ulang memang membutuhkan waktu.
Ruben Amorim sendiri juga tidak ambil pusing dengan kritik. Setelah ditahan Tottenham, ia mengatakan:
“Ketika Anda tidak bisa menang, maka jangan kalah.”
Ia mengaku kecewa gagal mengamankan tiga poin, tetapi menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan ketenangan. Menurut Amorim, fondasi permainan MU sudah terlihat, meski harus terus diperbaiki.
Masalah Kreativitas yang Tak Kunjung Selesai
Salah satu kritik terbesar terhadap MU adalah lemahnya kreativitas serangan. Meski memiliki pemain seperti Bruno Fernandes, Cunha, dan Garnacho, performa mereka dalam membangun peluang masih kalah jauh dibandingkan tim-tim besar lainnya.
Data menunjukkan bahwa United masih berada di luar sepuluh besar Premier League dalam hal expected goals (xG) dan peluang besar tercipta. Ini menandakan bahwa meski ball possession meningkat, kualitas serangan justru belum berkembang.
Selain itu, United masih mengandalkan momen individual ketimbang skema permainan yang matang. Hal ini mengundang kritik bahwa arah taktik Amorim belum benar-benar terserap oleh para pemainnya.
Masalah Struktural di Lini Tengah Masih Jadi PR Berat
Salah satu isu paling krusial dalam perjalanan Manchester United beberapa musim terakhir adalah kurang solidnya lini tengah. Bahkan setelah kedatangan pemain-pemain baru, masalah ini belum sepenuhnya teratasi. United sering kalah dalam perebutan bola kedua, kalah cepat dalam transisi, dan kesulitan mengalirkan bola dari lini tengah ke lini depan.
Kombinasi pemain seperti Kobbie Mainoo, Casemiro, Enzo Le Fée, hingga Christian Eriksen telah dicoba dalam berbagai susunan, namun stabilitas yang diharapkan belum sepenuhnya muncul. Transisi defensif yang lamban dan kurangnya pemain dengan kemampuan progresi bola membuat United kesulitan mengontrol tempo pertandingan.
Ini semakin terlihat ketika menghadapi tim-tim yang bermain intensitas tinggi, seperti Tottenham dan Nottingham Forest. United sering kesulitan keluar dari tekanan lawan, meski di atas kertas mereka memiliki pemain yang dapat menguasai bola.
Di sinilah kritik terhadap Amorim semakin tajam. Banyak yang menilai bahwa MU tidak memiliki “kontrol pertandingan” yang selama ini menjadi ciri khas tim besar. Mereka tidak sepenuhnya dominan saat memimpin, dan ketika tertinggal, perubahan ritme permainan tidak selalu efektif.
Apakah Taktik Amorim Belum Cocok dengan Kualitas Pemain?
Ruben Amorim dikenal sebagai pelatih dengan filosofi bermain yang cukup kompleks. Ia mengandalkan struktur 3-4-3 atau 3-4-2-1 dengan transisi cepat, rotasi vertikal, dan pressing yang agresif. Model permainan seperti ini membutuhkan pemain dengan kecerdasan posisi dan ketenangan ekstra.
Masalahnya, tidak semua pemain MU saat ini memiliki profil yang ideal untuk sistem tersebut. Meskipun sebagian sudah menunjukkan peningkatan, adaptasi secara menyeluruh masih belum terlihat sempurna.
Beberapa analis berpendapat bahwa MU harus melakukan dua hal:
- Merekrut pemain yang lebih sesuai dengan pola taktik Amorim.
- Menyederhanakan sistem permainan agar lebih mudah dijalankan oleh skuad yang ada.
Namun, Amorim menegaskan bahwa ia tetap percaya proses ini membutuhkan waktu. Ia menyebut bahwa pondasi permainan harus dibangun secara bertahap, bukan instan.
Tantangannya, sabar bukan sifat utama para pendukung Manchester United, terutama setelah menunggu lebih dari satu dekade untuk melihat tim kembali kompetitif.
Performa Stabil Tetapi Tidak Meyakinkan: Kontradiksi MU Musim Ini
Lima laga tanpa kekalahan, secara statistik, bukan sesuatu yang bisa diremehkan. Banyak tim besar pun mengalami fase naik turun. Namun permasalahan utama Manchester United adalah bagaimana mereka bermain, bukan sekadar hasil akhir.
United tidak sepenuhnya dominan, tidak sepenuhnya superior, dan tidak sepenuhnya meyakinkan. Mereka mencetak gol cukup, tetapi tidak impresif. Mereka bertahan cukup solid, tetapi masih rentan terhadap serangan balik cepat.
Kontradiksi ini membuat para pengamat mempertanyakan apakah tren positif ini akan bertahan atau justru rapuh ketika menghadapi jadwal yang lebih berat.
Sebagai contoh, saat melawan Tottenham, MU sempat unggul sebelum akhirnya kehilangan kendali permainan. United tidak mampu mempertahankan dominasi dan justru terlihat panik ketika Spurs meningkatkan intensitas.
Faktor Mentalitas: Apakah MU Masih Rentan dalam Tekanan Besar?
Selain masalah teknis dan taktik, mentalitas tim juga sering menjadi sorotan. Dalam beberapa musim terakhir, MU dikenal sebagai tim yang mudah goyah ketika menghadapi situasi sulit. Mereka kehilangan fokus, gugup ketika ditekan lawan, dan sering membuat kesalahan elementer yang merugikan.
Amorim menilai bahwa masalah mentalitas ini sudah mulai membaik. Para pemain kini lebih tenang saat tertinggal dan lebih sabar dalam membangun serangan. Namun beberapa laga terakhir menunjukkan bahwa perkembangan mental ini masih belum stabil.
Contohnya, saat pertandingan melawan Nottingham Forest, United justru terlihat kehilangan kreativitas ketika Forest menumpuk pemain di lini belakang. Mereka tidak mampu menembus blok pertahanan padat, dan permainan menjadi minim ide.
Masalah ini kembali memunculkan pertanyaan besar: apakah mentalitas juara sudah kembali ke tubuh Manchester United?
Kebersamaan dan Harmoni Tim: Salah Satu Kekuatan Baru MU
Meski kritik berdatangan dari luar, situasi internal klub justru menunjukkan sisi yang lebih positif. Banyak pemain menyebut bahwa suasana ruang ganti jauh lebih healthy dan stabil dibandingkan era sebelumnya.
INEOS sebagai pemilik baru juga menerapkan struktur manajemen modern yang lebih tegas dan efisien. Komunikasi antara pelatih, pemain, dan manajemen kini lebih lancar. Tidak ada lagi keputusan mendadak yang mengganggu konsentrasi tim.
Inilah alasan mengapa beberapa pemain senior seperti Lisandro Martínez dan Bruno Fernandes mengatakan bahwa perkembangan United sebenarnya nyata—hanya saja belum terlihat dalam bentuk hasil besar.
Kebersamaan seperti ini merupakan modal yang sangat penting untuk proyek jangka panjang. Banyak tim juara, termasuk Manchester City dan Liverpool, membangun kejayaan mereka dari ruang ganti yang stabil dan penuh kesadaran kolaboratif.
Fans Mulai Terbagi Dua: Percaya Proses atau Mulai Tidak Sabar?
Salah satu konsekuensi dari klub sebesar Manchester United adalah besarnya tekanan dari para pendukung. Fans MU terbagi menjadi dua kubu besar dalam menyikapi performa Amorim:
- Kubu “Percaya Proses”, yang melihat MU sedang membangun fondasi jangka panjang dan perlu kesabaran.
- Kubu “Sudah Cukup”, yang menilai bahwa satu tahun adalah waktu yang cukup bagi sebuah klub besar untuk menunjukkan perkembangan signifikan.
Kedua kubu ini memiliki argumen kuat. Di satu sisi, United memang terlihat lebih stabil. Namun di sisi lain, jarak mereka dengan tim-tim papan atas masih cukup jauh.
Situasi seperti ini mengingatkan banyak orang pada era Ole Gunnar Solskjaer. Ada fase positif, ada momen stabil, tetapi progres itu tidak pernah cukup besar untuk membawa United kembali menjadi tim pemburu gelar.
Amorim berada dalam posisi yang sama: ia harus membuktikan bahwa tren positif ini bukan sekadar fase singkat, tetapi pondasi yang berkelanjutan.
Pentingnya Menentukan Starting XI yang Konsisten
Salah satu kritik yang muncul dari analisis taktik adalah kurang konsistennya starting XI Manchester United. Amorim dikenal sebagai pelatih yang suka merotasi pemain untuk menyesuaikan dinamika pertandingan.
Namun rotasi yang terlalu sering membuat tim kehilangan kohesi. Setiap pertandingan terasa seperti eksperimen baru, dan ini mengganggu kontinuitas permainan.
Beberapa pemain seperti Garnacho, Sesko, dan Cunha kadang tampil apik tetapi kemudian menghilang dalam pertandingan berikutnya karena rotasi. Hal ini membuat ritme serangan MU sulit mencapai tingkat optimal.
Di sisi lain, para analis menyebut bahwa United memang memiliki skuad yang belum seimbang. Ada posisi yang terlalu penuh, tetapi ada juga yang terlalu kosong. Ini membuat Amorim kesulitan menentukan struktur terbaik.
Apakah MU Butuh Waktu Lebih Lama untuk Menjadi Tim Juara?
Pertanyaan besar yang muncul dari semua analisis ini adalah: berapa lama waktu yang dibutuhkan Manchester United untuk kembali ke level tertinggi?
Para pakar memberikan estimasi beragam. Ada yang menilai dua musim lagi, ada yang menyebut lima musim, dan tidak sedikit yang pesimis melihat ambiguitas proyek ini.
Namun mayoritas sepakat bahwa MU saat ini sedang berada pada jalur yang lebih benar daripada lima hingga enam tahun sebelumnya. Struktur klub lebih rapi, transfer lebih terarah, dan pelatih memiliki visi jelas.
Jika United bisa menjaga konsistensi dan melakukan pembenahan yang tepat pada bursa transfer berikutnya, peluang mereka kembali menjadi tim papan atas sangat terbuka.
Jadwal Berat Menanti: Ujian Sesungguhnya Dimulai
United akan memasuki periode sulit dalam beberapa pekan ke depan. Mereka dijadwalkan menghadapi lawan-lawan berat seperti:
- Chelsea
- Liverpool
- Newcastle United
- Manchester City
Di sinilah tren lima laga tak terkalahkan akan benar-benar diuji. Apakah United bisa mempertahankan stabilitas mereka, atau justru runtuh ketika berhadapan dengan tim-tim besar?
Jika United bisa keluar dari periode ini dengan performa solid, kritik terhadap Amorim akan mereda. Namun jika hasilnya mengecewakan, tekanan terhadap pelatih Portugal itu akan berlipat ganda.
Dan seperti yang kita tahu, sejarah menunjukkan bahwa kursi pelatih Manchester United adalah salah satu yang paling panas di sepak bola Inggris.
Ruben Amorim dan Proyek Jangka Panjang: Visi yang Butuh Kesabaran
Ruben Amorim bukan pelatih yang dibawa untuk sekadar memberikan solusi instan. Ia datang dengan reputasi membangun proyek jangka panjang, menciptakan identitas permainan, dan mengembangkan pemain muda.
Model ini bekerja dengan sangat baik di Sporting CP, di mana Amorim mengubah tim yang sempat terpuruk menjadi juara liga. Namun konteks Manchester United tentu berbeda. Tekanan lebih besar, ekspektasi lebih tinggi, dan kesabaran publik jauh lebih tipis.
Namun demikian, filosofi yang ia terapkan mulai terlihat hasilnya, meski belum puncak. Para pemain muda seperti Garnacho, Willy Kambwala, Kobbie Mainoo, bahkan Benjamin Sesko, menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman taktik dan kedewasaan bermain.
Amorim juga jelas ingin membangun tim yang tidak hanya bergantung pada satu-dua pemain saja, tetapi menciptakan mesin kolektif yang solid. Meski prosesnya lambat, fondasi itu mulai terbentuk.
Kebugaran dan Kedalaman Skuad: Masalah yang Tidak Bisa Diabaikan
Salah satu faktor yang membuat performa Manchester United naik turun dalam beberapa tahun terakhir adalah masalah kebugaran pemain. Cedera pemain inti selalu menjadi gangguan besar dalam perjalanan liga.
Musim ini, Amorim cukup beruntung karena sebagian besar pemain utama berada dalam kondisi fit. Namun masalah tetap ada—khususnya pada kedalaman skuad.
Di posisi bek tengah, United masih sangat bergantung pada Lisandro Martínez dan Leny Yoro. Jika salah satu cedera, kualitas cadangan menurun drastis. Di lini tengah, kreativitas masih bertumpu pada Bruno Fernandes dan Mainoo, sementara lini serang masih mencari keseimbangan antara kecepatan, finishing, dan kreativitas.
Kedalaman skuad yang belum merata inilah yang sering menjadi alasan mengapa United sulit tampil dominan dalam banyak laga meski mereka tetap mampu mengamankan hasil yang tidak mengecewakan.
Perbandingan dengan Rival: Seberapa Jauh MU Tertinggal?
Untuk memahami progres Manchester United, kita perlu membandingkannya dengan rival utama mereka di Premier League: Manchester City, Arsenal, dan Liverpool.
Arsenal telah menunjukkan stabilitas luar biasa selama tiga musim terakhir. Mereka tidak hanya konsisten secara taktik, tetapi juga memiliki struktur skuad kuat yang dibangun secara bertahap oleh Mikel Arteta.
Manchester City, di bawah Pep Guardiola, masih menjadi standar emas dalam konsistensi, fleksibilitas, dan mentalitas juara. United masih jauh dari level ini.
Liverpool meskipun sempat melemah, mulai bangkit bersama manajer baru dan berhasil melakukan regenerasi skuad yang relatif mulus.
Dalam perbandingan ini, Manchester United terlihat sebagai tim yang baru memulai pembangunan kembali. Mereka tidak terlalu tertinggal dalam kualitas individu, tetapi tertinggal dalam stabilitas permainan dan kohesi tim.
Faktor INEOS: Bukan Sekadar Pemilik, Tetapi Arah Baru Klub
Kehadiran INEOS membawa perubahan besar yang tidak terlihat secara langsung di lapangan, tetapi sangat terasa dalam struktur klub. Mereka memfokuskan diri pada:
- Rekrutmen yang lebih terarah dan berbasis data.
- Peningkatan fasilitas latihan.
- Standarisasi metode pelatihan.
- Perbaikan dalam manajemen kontrak dan negosiasi.
Hasil dari perubahan struktural ini biasanya baru terasa setelah 2–3 tahun. Jika United bisa menjaga stabilitas hingga periode itu, bukan tidak mungkin klub kembali menjadi kekuatan utama Eropa.
Inilah yang membuat beberapa analis sepak bola optimistis bahwa MU sedang dalam arah yang sangat benar, hanya saja prosesnya akan panjang.
Apakah Kritik Menghambat atau Justru Mendorong Progres?
Bagi klub sebesar Manchester United, kritik adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, kritik juga bisa menjadi bahan bakar untuk memacu perubahan.
Para pemain sering kali mengatakan bahwa mereka justru terbantu oleh tekanan besar dari media dan publik. Hal itu membuat mereka sadar bahwa standar yang diminta jauh lebih tinggi dibandingkan klub-klub biasa.
Dalam konteks ini, kritik dari sosok seperti Jimmy Floyd Hasselbaink tidak harus dianggap sebagai serangan. Bisa jadi itu justru menjadi teguran penting agar United tidak berpuas diri hanya karena tidak kalah dalam beberapa laga.
Amorim sendiri dalam berbagai wawancara menegaskan bahwa ia tidak pernah takut menerima kritik. Baginya, kritik adalah bukti bahwa orang-orang masih peduli dengan Manchester United.
Tanda-Tanda Positif yang Mulai Terlihat
Meski progresnya lambat, Manchester United menunjukkan beberapa tanda positif yang tidak boleh diabaikan:
- Pertahanan lebih stabil dibandingkan dua musim lalu.
- Pemain muda berkembang konsisten di bawah sistem Amorim.
- Ruang ganti harmonis, berbeda dari era Ten Hag dan Solskjaer.
- Struktur klub lebih sehat berkat campur tangan INEOS.
- Tekanan internal lebih terkendali, tidak ada lagi drama yang mengganggu performa tim.
Semua ini belum cukup untuk membawa MU menjadi juara. Namun, ini adalah pondasi yang sempat hilang selama satu dekade lebih. Tanpa fondasi ini, tidak mungkin sebuah klub membangun kejayaan baru.
Apakah Lima Laga Tanpa Kekalahan Cukup untuk Jadi Patokan?
Jawabannya: tidak sepenuhnya. Lima laga tanpa kekalahan adalah sinyal naiknya stabilitas, tetapi tidak otomatis membuktikan bahwa United sudah kembali ke jalur juara.
Namun, jika lima laga ini menjadi bagian dari tren panjang, bukan tidak mungkin kritik yang dilontarkan hari ini akan berubah menjadi pujian beberapa bulan mendatang.
United harus membuktikan diri dalam laga-laga besar berikutnya. Jika mereka bisa menahan Liverpool, mengalahkan Chelsea, atau mencuri poin dari Manchester City, maka persepsi publik akan berubah signifikan.
Kesimpulan: Manchester United Masih di Jalur yang Tepat, tetapi Perjalanan Masih Panjang
Kritik terhadap Manchester United bukan tanpa alasan. Mereka memang belum menunjukkan peningkatan drastis, belum tampil dominan, dan belum pantas disebut pesaing gelar.
Namun di balik semua kritik itu, terdapat realitas penting: MU sedang membangun ulang dari dasar. Proses ini memakan waktu, tetapi menunjukkan tanda-tanda positif yang semakin kuat.
Lima laga tanpa kekalahan bukan pencapaian besar, tetapi bagian dari stabilitas yang lama hilang. Jika mereka mampu melanjutkan tren ini, memperbaiki kreativitas serangan, dan meningkatkan konsistensi permainan, bukan tidak mungkin MU kembali menjadi kekuatan besar Premier League.
Progres Manchester United ada — hanya saja belum cukup besar untuk terlihat jelas. Namun fondasinya sudah terbentuk. Dan itu adalah langkah pertama menuju kebangkitan sejati.