5 Pemain yang Harus Segera Ditarik dari Masa Peminjaman: Termasuk Bintang Liverpool dan Manchester United
Peminjaman pemain telah menjadi strategi penting dalam dunia sepak bola modern. Klub besar seperti Liverpool, Manchester United, Chelsea, hingga Manchester City meminjamkan pemain muda mereka sebagai investasi jangka panjang. Namun, tidak semua rencana berjalan mulus. Beberapa pemain justru tersendat, kehilangan menit bermain, bahkan mengalami penurunan performa.
Ketika pemain jarang dimainkan atau gagal beradaptasi, klub induk harus mengambil keputusan cepat: mengakhiri masa peminjaman lebih awal. Keputusan seperti itu bukan hal asing—bahkan sering menyelamatkan karier pemain tersebut.
Dalam laporan terbaru, terdapat lima kasus pemain pinjaman yang sebaiknya segera ditarik. Mereka berasal dari klub-klub besar Premier League dan dinilai tidak berkembang di klub peminjam. Berikut pembahasan lengkapnya.
1. Harvey Elliott (Liverpool → Aston Villa)
Harvey Elliott menjalani masa peminjaman di Aston Villa dengan satu tujuan utama: mendapatkan menit bermain yang lebih banyak. Liverpool setuju dengan kesepakatan ini karena Villa memberi jaminan bahwa Elliott akan masuk dalam rotasi Unai Emery. Bahkan, terdapat klausul pembelian permanen otomatis setelah mencapai 10 penampilan.
Namun hingga kini, Elliott baru mencatat 5 penampilan dan itupun sebagian besar sebagai pemain pengganti. Dalam tiga pertandingan terakhir, ia bahkan hanya duduk di bangku cadangan.
Situasi ini membuat masa depan Elliott di Villa tidak jelas. Jika ia terus berada di bangku cadangan, klausul pembelian tidak akan aktif, dan Liverpool berpotensi kehilangan momentum untuk menjual atau mengembangkan sang pemain.
Dari sudut pandang taktik, Elliott sebenarnya cocok untuk gaya bermain Villa yang agresif, tetapi Emery tampaknya belum sepenuhnya menaruh kepercayaan pada gelandang berusia 21 tahun tersebut.
Kenapa Liverpool sebaiknya menarik Elliott?
- Menit bermain sangat minim.
- Klausul pembelian permanen tidak akan tercapai.
- Liverpool kini kekurangan alternatif gelandang kreatif.
- Elliott berpotensi membangun kembali performa jika kembali ke Anfield.
2. Jadon Sancho (Manchester United → Aston Villa)
Karier Jadon Sancho di Manchester United tidak pernah berjalan mulus. Setelah dikritik publik dan gagal menemukan performa terbaiknya, Sancho sempat disebut akan pindah ke Chelsea. Namun, pada akhirnya ia memilih Aston Villa sebagai tempat untuk memulai kembali kariernya.
Sayangnya, kenyataan di lapangan tidak seindah harapan. Sancho baru mencatat delapan menit bermain di Premier League sejak kedatangannya. Dia bukan pilihan utama dan bahkan bukan prioritas kedua dalam rotasi lini serang Villa.
Manchester United kini mulai khawatir. Harapannya, masa peminjaman Sancho bisa mengembalikan performanya sehingga harga jualnya meningkat. Tetapi jika ia terus duduk di bangku cadangan, nilai pasar Sancho bisa semakin merosot.
Kenapa MU sebaiknya menarik Sancho?
- Minimnya menit bermain membuat harga jual semakin turun.
- Sancho membutuhkan lingkungan baru yang benar-benar memberikan kepercayaan.
- Villa terlihat tidak memiliki peran jelas untuknya.
- MU bisa mencarikan klub peminjam lain yang lebih cocok.
3. Facundo Buonanotte (Brighton → Chelsea)
Transfer peminjaman Facundo Buonanotte ke Chelsea cukup mengejutkan publik. Brighton mengharapkan sang pemain berkembang melalui menit bermain yang reguler, sementara pelatih Chelsea, Enzo Maresca, menyebut bahwa Buonanotte memiliki masa depan cerah.
Tetapi kenyataannya berbeda jauh. Buonanotte baru tampil sekali di Premier League dan bahkan tidak masuk skuad Liga Champions Chelsea. Pada usia muda, 20 tahun, kondisi seperti ini sangat berbahaya untuk perkembangan pemain.
Chelsea saat ini memiliki stok gelandang serang yang luar biasa banyak: Cole Palmer, Nkunku, Mudryk, Gallagher, hingga sterner wing players lain. Buonanotte berada jauh di bawah daftar prioritas.
Kenapa Brighton harus menarik Buonanotte?
- Usia masih muda — menit bermain sangat penting.
- Chelsea memiliki terlalu banyak pemain di posisinya.
- Brighton bisa mengembalikannya ke rotasi utama di Amex Stadium.
- Performanya di Premier League tahun lalu lebih baik daripada sekarang.
Brighton dikenal sebagai klub yang sangat membantu perkembangan pemain muda. Buonanotte kembali ke klub induk akan memberikan peluang lebih besar untuk tampil reguler.
4. Claudio Echeverri (Manchester City → Bayer Leverkusen)
Manchester City mendatangkan Claudio Echeverri sebagai salah satu investasi terbesar mereka untuk masa depan. Disebut-sebut sebagai “penerus Lionel Messi” di Argentina, Echeverri diprediksi akan menjadi bintang baru yang bersinar di Eropa. Untuk mengembangkan talentanya, City memutuskan meminjamkannya ke Bayer Leverkusen, klub yang dikenal sangat efektif mengembangkan pemain muda.
SIMAK JUGA : Update Daftar Negara Lolos ke Piala Dunia 2026: Prancis Susul Inggris, Italia Masih Berjuang di Jalur Playoff
Namun realita di Bundesliga tidak seindah yang dibayangkan. Echeverri kesulitan mendapatkan tempat utama. Ia belum pernah menjadi starter di Bundesliga dan hanya tampil sesekali di Liga Champions. Bahkan menit bermainnya lebih sedikit dibandingkan beberapa pemain akademi Leverkusen.
Kesulitan semakin bertambah ketika klub memutuskan memecat pelatih Erik ten Hag — sosok yang sebelumnya dikabarkan menjadi kunci alasan City memilih Leverkusen sebagai tujuan peminjaman. Pergantian pelatih membuat Echeverri semakin tidak jelas perannya dalam skuad.
Situasi ini dapat berdampak buruk bagi perkembangan pemain berusia 19 tahun tersebut. Di usia muda, ritme pertandingan dan kepercayaan pelatih merupakan fondasi utama untuk pertumbuhan teknis maupun mental. Jika keduanya tidak ia dapatkan, proses perkembangan Echeverri bisa tertunda bertahun-tahun.
Kenapa Manchester City harus menarik Echeverri?
- Minim menit bermain dan rotasi tidak jelas.
- Pelatih baru di Leverkusen tidak menjadikan Echeverri bagian dari rencananya.
- City bisa memilih klub peminjam lain yang lebih cocok untuk perkembangannya.
- Pemain berpotensi stagnan jika tetap bertahan.
Setelah keberhasilan Manchester City mengembangkan pemain muda seperti Phil Foden, Oscar Bobb, dan Rico Lewis, mereka tentu memahami pentingnya menit bermain secara reguler. Karena itu, menarik Echeverri lebih awal sangat masuk akal.
5. Kostas Tsimikas (Liverpool → AS Roma)
Kostas Tsimikas sempat dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk posisi bek kiri Liverpool, namun akhirnya dilepas ke AS Roma demi mendapatkan menit bermain lebih banyak. Start-nya bahkan berjalan positif dengan satu assist pada laga debutnya di Liga Europa.
Tetapi beberapa pekan kemudian, posisinya mulai tergeser. Pelatih Gian Piero Gasperini — yang terkenal menggunakan sistem bek sayap dengan intensitas tinggi — tampaknya kurang puas dengan kontribusi Tsimikas. Bahkan dalam beberapa pertandingan, ia lebih memilih menurunkan bek kanan sebagai bek kiri ketimbang memainkan Tsimikas di posisi naturalnya.
Ini tentu menjadi sinyal buruk. Jika seorang pemain tidak masuk taktik utama pelatih, sulit baginya untuk berkembang atau mendapatkan kepercayaan. Terlebih, Roma adalah klub besar yang sedang membangun skuad baru untuk bersaing di Serie A dan kompetisi Eropa.
Situasi ini membuat Tsimikas berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Ia membutuhkan menit bermain untuk menjaga levelnya. Sementara di Liverpool, kondisi justru menunjukkan kebutuhan terhadap pemain berpengalaman di sektor kiri pertahanan.
Kenapa Liverpool harus menarik Tsimikas?
- Performanya dibutuhkan kembali karena Andy Robertson mulai menurun.
- Milos Kerkez belum stabil dan tidak konsisten.
- Roma tidak memberinya kepercayaan yang cukup.
- Liverpool membutuhkan kedalaman skuad untuk kompetisi panjang.
Di usia 28 tahun, Tsimikas masih berada dalam fase terbaik kariernya. Menjaganya tetap aktif dan bertanding secara reguler jauh lebih penting daripada membiarkannya duduk di bangku cadangan Roma.
Mengapa Masa Peminjaman Bisa Gagal?
Ada banyak alasan mengapa sebuah masa peminjaman gagal total. Beberapa di antaranya adalah:
- Perubahan pelatih – Pemain yang awalnya masuk rencana bisa hilang kesempatan setelah pelatih baru datang.
- Kualitas skuad terlalu padat – Seperti kasus Chelsea, pemain muda sulit mendapat tempat jika bersaing dengan bintang mahal.
- Adaptasi buruk – Liga, bahasa, gaya permainan, bahkan cuaca bisa memengaruhi performa.
- Cedera – Cedera ringan berulang sering mengubah nasib pemain pinjaman.
- Klausul tidak menguntungkan – Klub peminjam bisa sengaja menghindari klausul pembelian otomatis agar tidak membayar mahal.
Sejumlah kasus serupa pernah terjadi pada pemain seperti Romelu Lukaku, Donny van de Beek, hingga Dani Ceballos yang penampilannya merosot saat masa peminjaman. Jika situasi dibiarkan, karier pemain bisa terhambat secara permanen.
Dampak Pemain Pinjaman bagi Klub Induk
Untuk klub induk seperti Liverpool, Manchester United, Chelsea, dan Manchester City, pemain pinjaman adalah aset penting. Jika masa peminjaman gagal, sejumlah dampak bisa langsung dirasakan:
- Nilai pasar menurun – Harga jual bisa jatuh drastis jika pemain jarang dimainkan.
- Perkembangan pemain terhambat – Pemain muda tidak mendapatkan pengalaman yang dibutuhkan.
- Kehilangan potensi jangka panjang – Beberapa pemain sebenarnya sangat berbakat, tetapi tidak berkembang saat dipinjamkan.
- Kehilangan opsi cadangan di skuad utama – Kasus Tsimikas jelas menunjukkan bahwa klub induk bisa rugi.
Karena itu, menarik pemain lebih awal bukan hanya soal menyelamatkan karier, tetapi juga menjaga nilai ekonomis dan taktis klub.
Kapan Waktu Terbaik Memutus Masa Peminjaman?
Keputusan untuk menarik pemain dari masa peminjaman biasanya dilakukan pada:
- Bursa transfer Januari – Waktu paling ideal untuk koreksi strategi.
- Awal musim – Jika pemain langsung tidak cocok di klub peminjam.
- Setelah pergantian pelatih – Ketika pemain tidak lagi masuk rencana taktik.
Liverpool, Manchester United, dan Manchester City kemungkinan akan memanfaatkan bursa Januari untuk melakukan evaluasi besar-besaran terkait pemain pinjaman mereka.
Perbandingan dengan Pemain Pinjaman yang Sukses
Untuk memahami mengapa lima pemain di daftar ini harus segera ditarik dari masa peminjaman, kita perlu melihat contoh pemain yang berhasil saat dipinjamkan. Contoh paling populer dalam beberapa musim terakhir adalah:
- Martin Ødegaard (Real Madrid → Arsenal) – Mendapat kepercayaan penuh dan akhirnya menjadi kapten Arsenal.
- Harry Kane (Tottenham → Leicester & Norwich) – Memanfaatkan masa pinjaman untuk berkembang konsisten.
- Mason Mount (Chelsea → Derby County) – Tampil penuh dan langsung naik kasta kembali ke tim utama.
- Emile Smith Rowe (Arsenal → Huddersfield) – Menjadi pilar tim dan kembali sebagai pemain penting.
Keberhasilan para pemain tersebut bukan kebetulan. Mereka dipinjamkan ke klub yang memang membutuhkan peran mereka. Ketika pemain dipinjamkan ke klub yang sudah memiliki pilihan lebih baik, masa peminjaman hampir selalu gagal.
Sebaliknya, lima pemain dalam daftar ini justru berada di klub yang tidak memberikan ruang tumbuh. Itulah sebabnya klub induk harus bergerak cepat sebelum terlambat.
Analisis Taktis: Kenapa Mereka Tidak Cocok di Klub Peminjam?
Setiap kasus memiliki alasan yang berbeda. Namun ada pola yang sama: ketidakcocokan taktik. Berikut ringkasan taktisnya:
Harvey Elliott – Tidak cocok dengan pressing vertikal Emery
Unai Emery menggunakan sistem vertikal yang mengandalkan kecepatan transisi. Elliott lebih cocok bermain dalam sistem penguasaan bola seperti di Liverpool. Gaya permainannya tidak maksimal di Villa.
Jadon Sancho – Intensitas Villa terlalu tinggi
Sancho bukan pemain yang dikenal rajin bertahan. Villa membutuhkan winger pekerja keras, sedangkan Sancho adalah tipe kreatif yang lebih nyaman menerima bola di kaki. Ini membuat Emery jarang memainkannya.
Facundo Buonanotte – Chelsea tidak punya ruang untuk nomor 10 murni
Chelsea lebih suka gelandang serba bisa. Buonanotte adalah gelandang serang klasik yang kurang cocok dengan struktur taktis Maresca. Hasilnya, ia tersingkir dari rotasi.
Claudio Echeverri – Proyek Leverkusen kacau setelah pergantian pelatih
Ten Hag mungkin memberikan peran untuk Echeverri, tetapi pelatih baru tidak. Perubahan gaya bermain membuat Echeverri tidak relevan dalam struktur taktik tim.
Kostas Tsimikas – Gasperini membutuhkan wingback, bukan fullback klasik
Gasperini menginginkan bek kiri yang bisa naik-turun secara konstan seperti Robin Gosens pada masa kejayaan Atalanta. Tsimikas tidak terbiasa bermain selebar dan seintens itu.
Ketidakcocokan ini memperjelas bahwa keputusan peminjaman tidak hanya soal klub mana yang tertarik, tetapi juga seberapa cocok filosofi sepak bolanya.
Bagaimana Klub Harus Memperbaiki Strategi Peminjaman?
Masa peminjaman tidak boleh hanya menjadi solusi instan. Klub besar kini harus memiliki metode evaluasi yang lebih cermat, seperti:
- Analisis taktik mendalam sebelum memilih klub tujuan.
- Klausul wajib bermain agar pemain dipastikan mendapat menit bermain minimal.
- Komunikasi berkelanjutan antara staf pelatih klub induk dan klub peminjam.
- Evaluasi bulanan untuk menentukan apakah peminjaman masih efektif.
Contoh klub yang menerapkan sistem ini dengan baik adalah Real Madrid dan Chelsea. Meski sering mengirim banyak pemain muda, mereka memiliki departemen peminjaman khusus yang memonitor perkembangan pemain secara terperinci.
Jika strategi seperti ini diterapkan oleh Liverpool, Manchester United, Manchester City, dan Brighton, kegagalan seperti yang dialami Elliott, Sancho, Buonanotte, Echeverri, dan Tsimikas bisa diminimalkan.
Prediksi Masa Depan Lima Pemain Ini Setelah Peminjaman Diputus
Jika lima pemain ini benar-benar ditarik dari masa peminjaman pada Januari atau akhir musim, apa yang akan terjadi selanjutnya? Berikut skenarionya:
Harvey Elliott – Kembali ke Liverpool atau dijual?
Liverpool bisa memanfaatkan Elliott sebagai opsi rotasi. Tetapi jika klub membeli gelandang baru, Elliott kemungkinan dijual ke klub seperti Brentford atau West Ham.
Jadon Sancho – Dijual atau pinjaman baru?
MU hampir pasti ingin menjualnya, tetapi harga pasar jatuh. Agar nilainya naik, Sancho perlu dipinjamkan ke klub yang menjaminnya sebagai starter—misalnya Dortmund atau tim Serie A.
Facundo Buonanotte – kembali jadi pemain inti Brighton
Brighton akan memainkannya secara reguler. De Zerbi dulu sangat menyukai Buonanotte, dan sang pemain cocok dengan gaya permainan Brighton.
Claudio Echeverri – kemungkinan dipinjam kembali
City bisa meminjamkannya ke Girona atau Feyenoord, dua klub yang terkenal memberi kepercayaan kepada pemain muda.
Kostas Tsimikas – comeback yang dibutuhkan Liverpool
Dengan Robertson mulai menurun dan Kerkez belum stabil, Tsimikas bisa langsung menjadi pelapis utama. Bahkan bisa jadi starter pada beberapa laga.
Kesimpulan: Klub Harus Bergerak Sebelum Karier Pemain Merosot Lebih Dalam
Peminjaman pemain merupakan strategi penting dalam sepak bola modern, tetapi bukan tanpa risiko. Lima pemain yang dibahas dalam artikel ini—Harvey Elliott, Jadon Sancho, Facundo Buonanotte, Claudio Echeverri, dan Kostas Tsimikas—menunjukkan contoh nyata bagaimana masa peminjaman bisa gagal total jika tidak dikelola dengan tepat.
Jika klub induk seperti Liverpool, Manchester United, Brighton, Manchester City, dan AS Roma ingin menjaga nilai pemain, memaksimalkan potensi mereka, serta mempertahankan aset jangka panjang, maka keputusan untuk menarik pemain lebih awal adalah langkah yang tepat.
Dengan bursa transfer Januari semakin dekat, semua mata kini tertuju pada bagaimana klub-klub besar mengelola masa depan para pemain muda dan berpengalaman yang terjebak dalam situasi sulit selama peminjaman.
Apakah mereka akan ditarik pulang? Dipinjamkan ulang? Atau dijual permanen?
Jawabannya akan menjadi bagian penting dari dinamika bursa transfer musim dingin yang selalu penuh kejutan.